Sutarman Kecil Jadi Kuli Panggul Bambu demi Sekolah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dulu Komjen Pol Drs Sutarman semasa kecil biasa dipanggil Tarman oleh teman sekolahnya. Baik ketika sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Ganggang Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah maupun di SMP Cawas Kabupaten Klaten. Selepas dari SMP kemudian Tarman melanjutkan ke STM Bina Patria Sukoharjo.

Dari rumahnya di RT 03 RW XI Dukuh Dayu Kelurahan Tawang, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Tarman pergi ke
sekolah naik sepeda ontel. Sepulang sekolah, Tarman membantu Pawiro Miharjo (83) jualan bambu dan kayu di pasar.

"Tarman itu dari kecil rajin prihatin. Puasa tiap Senin dan Kamis hingga kini masih dilaksanakan. Dia pun
memanggul bambu dan kayu agar bisa melanjutkan sekolah. Karena memang kami orang tani miskin yang hidup apa
adanya," kata Prawiro, ayahanda Sutarman kepada Tribunnews.com yang mengunjungi rumah tempat tinggal Sutarman semasa kecil di Dayu, Sabtu (5/10/2013) siang.

Rumah Pawiro yang dulu dibangun menggunakan bahan kayu hingga kini masih terawat. Dalam pekarangan seluas
kira-kira 2.000 meter persegi itu sekarang sudah bertambah beberapa bangunan. Antara lain dua rumah tembok ukuran
besar dan satu padepokan "Langgeng Mulyo" yang diresmikan oleh Drs Sutarman Agustus tahun 2012. Padepokan tersebut
tiap malam Sabtu digunakan untuk latihan karawitan atau gamelan Jawa oleh warga setempat.

Pekarangan tersebut kini sudah berpagar tembok tinggi mengelilingi "rumah pepunden" atau rumah induk yang masih
utuh. Ada dua gerbang untuk akses ke rumahnya Sutarman tersebut yaitu pintu depan dan pintu samping. Pintu depan
yang lebih besar sering digembok sedangkan pintu samping atau belakang terbuka.

Pintu belakang itu langsung melewati kandang sapi yang sering digunakan oleh Bu Semi (ibu tiri Sutarman) dan
Pawiro mencari pakan sapinya. Dalam kandang tersebut terdapat dua ekor sapi besar. Rumah Sutarman ini berjarak
sekitar 90 menit perjalanan darat dari Surakarta. Lingkungan Dukuh Dayu, Desa Tawang, Kecamatan Weru adalah area
persawahan yang subur.

"Dulu Tarman itu sering makan nasi tiwul (gaplek). Bukan karena hobinya tetapi memang adanya ya tiwul itu. Dimakan
pakai bubuk ditambah kuah segar. Tarman sangat suka," terang Pawiro di teras rumah. Sehari-hari Pawiro hidup
berdua dengan Bu Semi, istri sambungan. Karena Bu Samiyem ibu kandung Sutarman sudah meninggal dunia.

Sutarman (56) adalah anak pertama dari lima bersaudara. Hanya Sutarman yang jadi polisi. Sedangkan empat adiknya
ada yang jadi guru PNS di Blora dan swasta. Satu lagi adik bungsu Sutarman jadi dosen di Unsud Purwokerto.

Tribunnews mengunjungi rumah Sutarman hari Sabtu tanggal 5 Oktober bertepatan dengan tanggal lahir Sutarman yaitu
5 Oktober 1957. Tak ada kegiatan istimewa di rumah kelahiran Sutarman tersebut. Bahkan Pawiro ayahandanya pun
tidak menyebutkan hari ulang tahun anak sulungnya tersebut.

"Kalau Syawal (setelah Idul Fitri) Tarman pulang nyekar ke makam. Walau sibuk tetap disempatkan di Lebaran hari ke
dua atau ke tiga. Lebaran kemarin (2013) juga pulang walau hanya menginap satu malam. Teman-teman sekolahnya
sering berkumpul di sini kalau Tarman pulang," terang Pawiro.

Beberapa hari lalu Pawiro juga diajak Sutarman ke Singapura untuk berobat. Hal yang paling sering ditanyakan
Sutarman terhadap ayahnya adalah kesehatan. Sepekan lalu Pawiro juga dijemput ke Yogyakarta bertemu Sutarman. Hal
ini dilakukan karena Sutarman sangat sibuk sehingga tak sempat pulang ke kampung halaman.

Tiap kali Sutarman akan menduduki jabatan baru atau naik pangkat selalu minta doa restu ke ayahnya. Termasuk saat
ini dimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan calon tunggal Kapolri yaitu Komjen Sutarman ke DPR.

"Ya kalau sudah mandat mau apalagi. Tarman akan laksanakan mandat dengan sebaik-baiknya. Dia sudah biasa prihatin.
Mungkin nanti tanggal 15 Oktober kepastiannya," kata Pawiro yang sering menunduk bila menceritakan Sutarman.

Presiden mengajukan calon tunggal Kapolri kepada DPR-RI Jumat, 27 September 2013. Surat yang berisi pengusulan
Sutarman alumnus Akpol 1981 itu diterima Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso. (widodo)

Baca Juga:

PKB Apresiasi Pencalonan Sutarman

Oegroseno: Sutarman Tak Sendirian Saat Jabat Kapolri

PPATK: Calon Kapolri Sutarman Tidak Punya Rekening Gendut


http://id.berita.yahoo.com/sutarman-kecil-jadi-kuli-panggul-bambu-demi-sekolah-010716723.html
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger