PLN: Kemampuan Investasi Tergantung Marjin Usaha

Jakarta (Antara) - PT PLN (Persero) mengungkapkan, kemampuan belanja investasi tergantung marjin usaha yang ditetapkan pemerintah bersama DPR dalam setiap APBN.

"Kalau marjinnya besar, maka kemampuan investasi akan meningkat," kata Direktur Konstruksi dan Energi Baru Terbarukan Nasri Sebayang di Jakarta, Jumat.

Ia mencontohkan, setiap kenaikan marjin usaha sebesar satu persen atau setara sekitar Rp2 triliun, akan membuat PLN mampu berinvestasi hingga Rp20 triliun.

"Jangan dilihat marjinnya, tapi konsekuensi yang ditimbulkannya. Kalau marjinnya cukup, maka kapasitas untuk cari pendanaan akan makin kuat," ujar Nasri.

Pada APBN 2014, pemerintah dan DPR menyepakati PLN mendapat marjin usaha sebesar tujuh persen atau sama dengan 2013.

Marjin tujuh persen tersebut akan membuat PLN memenuhi syarat "covenant" atau memperoleh pinjaman berupa "consolidated interest coverage ratio" (CICR) di atas 2 dan "debt service coverage ratio" (DSCR) di bawah 1,5.

PLN memperoleh pinjaman dana antara lain berasal dari penerusan pinjaman luar negeri pemerintah (sub loan agreement/SLA), serta obligasi dan perbankan baik dalam maupun luar negeri.

Setiap tahun PLN mesti mengeluarkan belanja investasi (capital expenditure/capex) sekitar Rp60 triliun.

"Capex" itu digunakan antara lain membangun pembangkit listrik, kabel transmisi dan distribusi, serta gardu induk dan distribusi.

Selain pinjaman dalam dan luar negeri, sumber pembiayaan investasi PLN lainnya berasal dari APBN dan selisih antara "cashflow" operasi dan kewajiban.(tp)


http://id.berita.yahoo.com/pln-kemampuan-investasi-tergantung-marjin-usaha-091144844--finance.html
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger